ISLAM & THEOLOGY PEMBEBASAN: Marxisme dan Tradisi Religio – Kultural (Asghar Ali Engineer)





Para pemikir dan ideolog Marxis di India khususnya, dan umumnya di Negara – Negara dunia ketiga lainnya tidak menunjukkan penghargaan terhadap sensitiviti budaya dan sentiment keagamaan setempat. Mereka mengadopsi (mengambil) idiom budaya Barat dan menggunakan pendekatan yang elitis. Pada umumnya untuk menarik perhatian masyarakat, Marxisme menggunakan idiom – idiom yang bertujuan meningkatkan taraf kehidupan ekonomi, bukannya memperkaya kehidupan spiritual dan budaya masyarakat. 

Sesungguhnya Marxisme yang seperti ini tidak memakai idiom Marxis yang asli yang berakar pada etos (jiwa khas sesuatu bangsa) budaya setempat. Marxisme yang seperti itu merupakan ideologi kelas menengah, sedangkan kaum buruh dan petani dilekatkan pada Marxisme dalam rangka mencapai tujuan ekonomi yang terbatas dan mereka dijauhkan dari semangat budaya dan spiritualnya sendiri.

Tidak menghairankan jika Marxisme tetap tidak menarik dibandingkan dengan fundamentalisme, konservatisme dan kelompok – kelompok reaksioner, kerana yang terakhir ini mampu memenuhi keperluan spiritual masyarakat, dan dalam hal ini, keperluan spiritual ini sama kuatnya dan sama mendesaknya dengan keperluan ekonomi. Tidaklah menghairankan kalau masyarakat berada di bawah pengaruh keagamaan kaum fundamentalisme dan cara pandangnya (outlook) tetap tidak berubah. Kemudian parti – parti politik yang berorientasi pada religious konservatif, seperti Jamaat Islami, mendirikan sarekat dagang untuk menjaga kaum buruh sepenuhnya tetap berada di bawah pengaruhnya.

Oleh kerana itu kaum Marxis perlu mengembangkan sebuah pendekatan religio – cultural dan ekonomi yang menyeluruh yang berakar pada etos masyarakat setempat. Hal ini memerlukan pemikiran yang luas, original dan kreatif serta teoritisasi yang matang. Marxisme yang berorientasi ke Barat dengan segala setnya tidak akan banyak berperanan. Marxisme juga tidak boleh mengesampingkan agama, apalagi mencampakkannya. Marxisme sangat perlu memikirkan masalah ini secara mendalam. Menganggap agama sebagai candu masyarakat dan membuangnya merupakan pendekatan yang sungguh – sungguh dangkal. Harus diingat bahawa agama adalah instrument yang penting dan dapat digunakan sebagai candu atau ideology yang revolusioner. Agama akan menjadi candu, seperti yang dikatakan Marx, hanya jika menjadi lenguhan kaum yang tertindas (sigh of the oppressed), hati dari manusia robot (heart of the heartless would) dan jiwa dari keadaan yang kosong (spirit of a spiritless situation).

Namun demikian, sesungguhnya agama tidak selalu menjadi sekadar lenguhan dari kaum yang tertindas; agama juga bisa menjadi sebuah pedang yang ada di tangan mereka. Agama tidak selalu menjadi candu untuk menghindar dari pertentangan melawan eksploitator; agama bisa menjadi sumber motivasi yang kuat untuk menggulingkan status quo. Ada beberapa contoh untuk itu.

Agama Buddha, Kristian, dan Islam adalah agama yang menentang status quo. Tiga agama itu mendorong terciptanya tatanan baru yang revolusioner. Bahkan agama Yahudi ketika Nabi Musa masih hidup, menentang raja Fir'aun sebagai raja yang kejam.


Demikian juga yang terjadi di Iran dan Filipina membuktikan bahawa agama merupakan pendorong untuk menyingkirkan status quo. Islam di Iran menggulingkan Syah, dan Kristian di Filipina merobohkan Marcos.


Ditransliterasi ke bahasa Melayu Malaysia

Comments

Popular posts from this blog

PENGENALAN “MANUSIA TIDAK MEMILIKI DAN TIDAK DIMILIKI”

Review Buku : Perangai Bergantung Pada Diri Sendiri, karangan Za’ba.

Anwar Ibrahim Berpesan Buat Generasi Muda Islam